Totti dalam Kenangan Saya

downloadFrancesco Totti, seorang pria flamboyan yang pernah bersumpah untuk mengusir anaknya dari rumah apabila anaknya mendukung Lazio, akhirnya resmi memutuskan gantung sepatu di usia 40. Pensiunnya Pangeran Roma tersebut membuatnya masuk ke dalam daftar pemain one-club men menyusul beberapa nama sebelumnya seperti Paulo Maldini, Jamie Carragher, juga Paul Scholes.

Di tengah sepak bola modern sekarang, Totti memang sebuah anomali. Di saat para pemain lain berlomba mengejar uang dan juga gelar, Totti tetap memilih untuk tinggal di Roma sembari mengenakan ban kaptennya dengan bangga meski klub tempat ia bermain AS Roma sendiri sebenarnya bukan klub yang gede-gede-amat dan bahkan cenderung minim prestasi.

Senin dini hari Waktu Indonesia Barat (29/5), Totti resmi menyelesaikan karirnya sebagai pesepakbola. Masuk menggantikan Mohamed Salah di menit ke-54, Totti berhasil membantu AS Roma mengamankan posisi ke-2 sekaligus memastikan tiket Liga Champions musim depan dengan mengalahkan Genoa dengan skor 3-2.

Pertandingan tadi juga dilanjutkan dengan prosesi selamat tinggal Totti dan saat ia mulai memeluki putra-putrinya serta sembari menangis mulai berjalan menuju Curva Sud, saya kembali memutar kenangan dan memori saya tentang dirinya.

Sebagai salah satu penikmat sepakbola yang menjatuhkan pilihan klub favorit saya ke AS Roma, -sebuah pilihan yang kadang membuat orang bertanya-tanya mengapa saya mau mendukung klub dengan logo serigala yang lebih mirip sapi ini. Perkenalan saya dengan AS Roma sendiri bermula dari game Winning Eleven yang memang sangat populer di masa itu (bahkan sampai sekarang). Namun kenangan awal saya menonton Totti ialah saat Roma menaklukan Reggina 2-0 yang belakangan setelah saya googling, berlangsung di tahun 2003 atau sekitar 14 tahun yang lalu.

as-roma_20170528_161127

Banner Totti yang terpasang di Margonda, Depok.

Dari situ, entah kenapa sosok Totti menempati porsi sendiri di hati saya dan entah bagaimana kekaguman saya akan wibawa yang ia perlihatkan dengan mengenakan ban kapten di lengannya perlahan membuat saya ikut jatuh cinta juga kepada klub yang ia bela, yaitu AS Roma.

Salah satu momen favorit saya saat Totti bermain ialah saat ia mencetak brace pada Derby Della Capitale Januari 2015 lalu, pada pertandingan tersebut Roma sempat tertinggal 2-0 oleh Lazio berkat gol masing-masing dari Stefano Mauri dan Felipe Anderson di babak pertama. Sesaat setelah jeda turun minum, Totti sempat memperkecil ketinggalan dengan memanfaatkan umpan silang Kevin Strootman.

Namun yang spesial menurut saya ialah gol keduanya yang sekaligus membuat skor menjadi imbang. Memanfaatkan umpan silang Jose Holebas, Totti melepaskan scissors kick yang tidak mampu dihalau Federico Marchetti dan apa yang terjadi setelahnya merupakan momen yang tidak bisa dilupakan oleh Romanisti di belahan dunia mana pun. Dengan handphone yang dibawakan oleh salah satu asisten Rudi Garcia, ia melakukan selfie bersama dengan ribuan penonton di Curva Sud sebagai latar belakangnya.

Belakangan, saking ikonik nya selebrasi tersebut, game sepakbola buatan Konami selaku pembuat seri Pro Evolution Soccer bahkan sempat menyertakan selebrasi tersebut ke dalam game-nya.

Kenangan terbaik saya tentang Totti lainnya juga terjadi di tahun yang sama, yakni 2015 kala Roma dengan nekatnya melakukan kunjungan ke Indonesia meski saat itu sepakbola Indonesia masih dibekukan oleh FIFA. Meski hype-nya sempat menurun karena pembekuan oleh FIFA tersbeut berarti Roma hanya akan bermain ala kadarnya di Indonesia serta masalah paspor yang membuat beberapa pemain Roma harus pulang kembali, namun berdiri di Tribun Selatan sembari menyanyikan ‘Roma Roma Roma’ serta melihat para pemain Roma bermain secara langsung merupakan salah satu pengalaman terbaik saya.

Pengalaman tersebut sangat berharga meskipun saya tahu bahwa kunjungan tersebut mungkin tidak berarti apa-apa bagi para pemain Roma dan bahkan Tottinya sendiri, terlihat dari bagaimana gestur mereka selama di Tanah Air dan gestur Totti sehabis mencetak gol.

Kenangan-kenangan tentang Totti tersebut terus berputar sampai akhirnya saya merasa kasihan dengan Totti yang selama karirnya di Roma hanya mendapat satu piala Serie A, dua piala Coppa Italia, serta dua piala Supercoppa Italiana yang itu pun terakhir diraih tahun 2007 atau 10 tahun yang lalu dan di musim terakhirnya Roma belum juga mampu meraih trofi.

Dalam sebuah wawancara ia mengakui bahwa dirinya bisa saja mendapatkan banyak trofi apabila ia memutuskan untuk menerima pinangan Real Madrid di tahun 2003. Namun, sekali lagi, kecintaanya kepada Roma membuat proses yang tinggal sedikit itu batal.

DA8GZB5XgAYFdAj

“Kau telah memenangi pertarungan terbesar di era sepakbola modern, 25 tahun dengan klub yang sama”.

Setidaknya begitulah arti dari spanduk berbahasa Italia yang terpasang di Curva Sud pada pertandingan terakhir Totti. Ya, memang Totti tidak memenangi banyak gelar bersama Roma. Tapi, lebih dari itu, ia telah memenangkan hati jutaan fans sepakbola yang mulai skeptis bahwa masih ada loyalisme dalam sepakbola, termasuk saya, yang terpaut lebih dari 10,000 km jauhnya dari Roma.

#GrazieCapitano

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s