Who the F*** is Liam Gallagher?

oasis 210109Kaos bertuliskan “Who the F*** is Liam Gallagher” tergantung di salah satu sudut venue pertunjukkan musik, The Ritz di Manchester pada 30 Mei 2017 lalu. Kaos tersebut merupakan salah satu merchandise yang dijual dalam pertunjukkan solo pertama Liam Gallagher yang sekaligus secara resmi memulai tur solo-nya di Inggris juga beberapa negara dunia, termasuk Indonesia.

Tentunya maksud dari tulisan di kaos tersebut bukan untuk mempertanyakan siapa sebenarnya Liam Gallagher dengan maksud merendahkan atau pun ketidaktahuan, namun sebaliknya, tulisan tersebut justru dibuat untuk menunjukkan kedigdayaan mantan vokalis Oasis dengan gaya bernyanyi seperti orang sakit punggung tersebut.

Dimulai dengan lagu ‘F****** In the Bushes’ yang biasa diputar sebagai pembuka konser Oasis dan dilanjutkan dengan beberapa lagu hits Oasis serta lagu-lagu yang nantinya akan dirilis dalam album solonya, konser solo pertama Liam tersebut mampu mengobati kerinduan bagi para penggemar Oasis yang merindukan kelompok musik kesayangan mereka tersebut.

Meskipun pernnah menyatakan bahwa dirinya tidak ingin memulai karir solo, namun kabar tentang album solo yang ia kerjakan sudah berhembus sejak pertengahan tahun 2016 lalu dan tentunya, tidak sedikit penggemar Oasis yang antusias mendengar kabar tersebut.

Selepas bubarnya Oasis pada tahun 2009, karir bermusik Liam memang tidak sementereng gitaris Oasis sekaligus kakaknya Noel Gallagher, yang mendirikan Noel Gallagher’s High Flying Birds. Pada tahun 2010, Liam mendirikan Oasis-Perjuangan (Oasis-P) alias Beady Eye setahun setelah ia mengumumkan bahwa ia dan beberapa bekas personil Oasis lainnya yakni: Gem Archer, Andy Bell dan Chris Sharrock akan mengerjakan sebuah proyek album bersama.

Beady Eye sempat merilis dua album studio yakni Different Gear, Still Speeding (2011) dan BE (2013) di mana keduanya sempat masuk ke dalam UKs Top 5 Album Chart dan hanya sekali menelurkan single yang masuk ke dalam UK Top 40 single. Beady Eye juga sempat melakukan serangkaian penampilan baik konser serta tur. Salah satu yang paling diingat tentunya adalah saat Beady Eye membawakan salah satu hits Oasis, Wonderwall di depan ratusan ribu pasang mata penonton pada acara penutupan Olimpiade London 2012 lalu.

Ironisnya, selain karena penampilan tersebut ditonton langsung oleh para kontingen dari hampir seluruh bagian dunia, penampilan tersebut juga diingat karena suara Liam yang terdengar seperti orang yang sedang terkena flu berat dan membuat para pengidap flu berat di dunia saat itu merasa terwakili.

Jika anda tekun mendengarkan karya-karya serta rekaman pertunjukkan-pertunjukkan Oasis sejak awal, anda akan dengan mudah menemukan penurunan performa vokal Liam yang memang sudah mulai terdengar sejak medio 2000-an. Penurunan performa tersebut juga yang menjadi salah satu factor mengapa Beady Eye tidak terlalu laris dipasaran dan hanya laris di ruang lingkup penggemar Oasis saja, selain karena memang lagunya tidak semenarik lagu-lagu Oasis yang sebagian besar ditulis oleh Noel.

Dalam perjalanannya sendiri, saya menganggap bahwa Beady Eye yang engga-gede-gede-amat itu pun tidak akan sebesar itu kalau bukan karena label ‘Oasis’ yang membayanginya dan sampai pembubarannya pada tahun 2014 lalu, Beady Eye bukan lah apa-apa melainkan hanya sebuah ‘band nostalgia’ Oasis belaka.

Selepas bubarnya Beady Eye, posisi Liam dalam kancah musik dunia tak ubahnya seperti Joey Barton dalam dunia sepakbola, hanya bisa berkomentar pedas mengenai orang lain tanpa berkaca akan kemampuan dirinya sendiri serta tak jarang melakukan ulah konyol, salah satunya ialah saat ia mengaku terlalu sakit untuk mengikuti persidangan mengenai child support anaknya, lalu terlihat minum di pub kurang dari 24 jam setelahnya. Pemberitaan mengenai dirinya pun tidak jauh-jauh dari isu reuni Oasis atau hubungannya dengan Noel yang menjadi alasan utama bubarnya Oasis bukan soal karya musiknya.

Atas dasar itu, album solo berjudul ‘As You Were’ yang kabarnya akan dirilis bulan Oktober dan tur dengan nama yang sama tentunya merupakan momentum yang tepat bagi Liam untuk kembali ke dunia musik dan menghilangkan image ­ke-Joey Barton-an’ yang terlanjur melekat kepada dirinya juga mengobati rindu para penggemar Oasis yang sudah mulai bosan mendengarkan lagu-lagu Noel Gallagher’s High Flying Birds (ini saya sendiri).

Setelah mendengarkan single-nya, Wall of Glass yang langsung mendapatkan respon positif dari diri saya dan juga jutaan manusia lain di dunia maya, saya tentu berharap bahwa momentum ini dapat membuat Liam membangkitkan karir musinya serta menuliskan namanya kembali dalam daftar ‘musisi berbakat yang harus diketahui semua orang’. Agar kedepannya tidak akan ada orang yang berkata “Who the f*** is Liam Gallagher” dengan maksud serius.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s