‘Akibat Pergaulan Blues’, Jika Kamu Bosan dengan Folk yang Puitis

Untitled.pngTak dapat dipungkiri, perkembangan musik folk berbasis indie sedang mencapai puncak popularitasnya pada beberapa tahun terakhir ini. Munculnya kelompok-kelompok musik pengusung panji folk di Indonesia seperti Payung Teduh, Stars and Rabbit, Float, Banda Neira dan seabrek kelompok musik serta musisi beraliran folk lainnya juga ikut mempopulerkan folk sekaligus membuatnya sebagai semacam sinonim dari ‘musik indie’ bagi sebagian orang, sebuah anggapannya yang tak sepenuhnya salah namun jelas keliru.

Selain sama-sama mengusung panji genre musik folk, seabrek kelompok musik tersebut juga mempunyai satu kesamaan yang menjadi salah satu daya tarik utama dari musik mereka, yakni dalam hal lirik dengan pemilihan bahasa ‘tinggi’ yang indah nan puitis, yang bahkan di antaranya kadang sulit saya mengerti. Salah satu bukti bahwa faktor lirik indah merupakan salah satu daya tarik utama dari lagu-lagu folk yang beredar di Indonesia dapat dengan mudah dilihat dari kolom komentar single terbaru Payung Teduh berjudul ‘Akad’ yang baru-baru ini dirilis di Youtube.

apb

“Tidak berterima kasih buat Fadli Zonk & Jonru” tertulis dalam ‘Thank You Notes’ ‘Akibat Pergaulan Blues’ (Dokumentasi penulis)

Jika dibandingkan dengan lagu-lagu Payung Teduh sebelumnya, dalam hal lirik lagu tersebut memang cenderung terasa lebih ringan, dan karenanya kebanyakan komentar yang bermunculan pun berisi nota keberatan mengenai hal tersebut.

Di tengah-tengah stigma lirik puitis yang makin melekat dengan musik folk di Indonesia tersebut, Jason Ranti dengan ‘Akibat Pergaulan Blues’-nya tentu merupakan sebuah anomali dan karenanya, sebuah pilihan alternatif bagi kalian yang mulai bosan dengan puitisasi lirik ala musisi folk lain.

Melalui album perdananya tersebut, Jeje, panggilan akrabnya, tampil dengan gaya slengean nan nakal namun kritis. Alih-alih puitis, lirik-lirik yang tersaji dalam 11 lagu yang terdapat dalam album tersebut justru menonjolkan sisi humor, sarkasme serta kritik social yang dibalut dengan liar dan nakal. Nampaknya, ia lupa untuk membaca Bab I yang berisi ‘Cara Membuat Lirik Puitis’ dalam buku ‘Kiat-Kiat Menjadi Musisi Folk Indie Tersohor’ yang menjadi kitab pegangan para pendahulunya.

Kenakalan serta keliaran imajinasi Jeje pun tercermin dalam liriknya, ia tak malu-malu memasukkan diksi seperti ‘Intisari’, ‘Penjahat Kelamin’, ‘Anggur Merah’ bahkan ‘Nikita Mirzani’ serta pelbagai diksi dewasa lainnya dalam liriknya atau juga saat ia menyebut dua gembong kriminal John Kei dan Hercules sebagai idolanya pada lagu ‘Stephanie Anak Senie’.

Kenakalan tersebut juga termanifestasi dalam salah satu lagu dalam albumnya yang berjudul ‘Kisah Tusuk Belakang dari Tegal Rotan’. Tanpa perlu dituliskan di sini, tentu para pembaca budiman tahu apa yang dimaksud Jeje. Sekedar info tambahan, Tegal Rotan sendiri merupakan salah satu tempat ‘nganu’ termasyhur di kawasan Bintaro, Ciputat dan sekitarnya.

artwork apb

Salah Satu Artwork yang Tersedia dalam Rilisan CD ‘Akibat Pergaulan Blues’ (Dokumentasi Penulis)

Namun album ini tidak hanya berisi keselengean Jeje, melainkan juga sisi kritis dan cara pandangnya seperti yang terdengar dalam lagu ‘Suci Maksimal’ yang diawali dengan kisah Pa Penjahat yang naik haji setahun sekali, dan Bu Penjahat yang cuci kaki satu jam sekali agar dianggap ‘Suci Maksimal’. Serta lagu ‘Variasi Pink’ yang berisi pandangan jujur Jeje mengenai wanita yang menghabiskan berjam-jam lamanya di depan cermin.

Dan tentu saja lagu yang paling menarik bagi saya, seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, adalah ‘Bahaya Komunis’. Lagu ini berisi sarkasme terhadap isu ‘komunisme’ yang belakangan dihembuskan kembali oleh beberapa pihak dan jika anda tidak menemukan unsur ‘sarkasme’ saat mendengar lagu tersebut, berarti patut diduga bahwa anda merupakan bagian pihak yang dimaksud.

‘Bahaya Komunis’ merupakan lagu sarkastik yang dibalut oleh lirik konyol ala Jason Ranti yang setidaknya dapat membuat saya tertawa cukup terbahak saat mendengar beberapa bagian bait liriknya seperti,

“Kini curiga waktu kulihat istri tercinta rambutnya merah bibirnya merah, BH-nya merah, kukunya merah, sepatunya merah

Oh, istriku mengapa kau merah? Mungkin ia agen rahasia? Oooo, sudah kuduga”

Atau juga,

            “Kini kusadar apa yang ku perbuat aku membaca mulai dari kiri, oo ini buku pasti buku kiri, oooo…buku kubakar!”

Pada akhirnya album dengan label ‘Bimbingan Orang Tua 18+’ yang tertempel pada sampul plastiknya ini pun sangat saya rekomendasikan untuk anda dapatkan bagi anda para pecandu musik folk, terutama bagi anda yang mulai jenuh dengan lirik puitis, seberapa nakal apa pun isinya. Seperti apa yang Jeje nyanyikan dalam lagu ‘Doa Sejuta Umat’,

“Karena apa salahnya nakal? Karena ku bukan polisi moral…ahayy!”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s