Sayangnya, Roma Masih Menjadi Supermarket Kali Ini

download (3)

“Roma wasn’t built in a day, but it can be sold in one transfer window”

Bagi kesebelasan semenjana dan yang-gak-gede-gede-amat, bursa transfer dapat diibaratkan sebagai pedang bermata dua. Di satu sisi bursa transfer sering kali disambut dengan gegap gempita, pasalnya momen tersebut merupakan saat yang tepat untuk menambal kekurangan tim sembari menyiapkan amunisi tambahan untuk mengarungi musim. Momen bursa transfer juga merupakan saat yang tepat untuk menyingkirkan pemain yang tidak dibutuhkan tim entah itu dijual, dipinjamkan atau diputus kontraknya.

Namun di sisi lain, bagi kesebelasan semenjana dan yang-gak-gede-gede-amat tugas terberat saat bursa transfer bukan lah soal membeli pemain baru atau membuang yang sudah tak terpakai. Melainkan mempertahankan pemain-pemain andalan yang menjadi tulang punggung tim pada musim sebelumnya. Kondisi tersebut yang dialami oleh AS Roma hampir tiap tahunnya.

Hampir tiap tahunnya, para pendukung Roma selalu dibuat cemas pada saat bursa transfer berlangsung,  para pendukung yang cemas tersebut pada akhirnya harus rela melihat pemain kesayangan mereka menanggalkan kostum merah-marun-tanpa-sponsor kebanggaan Curva Sud Olimpico. Bahkan bagi para tifosi Roma, ‘Roma menjual pemain bintangnya pada jendela transfer’ seakan telah menjadi hal yang pasti terjadi setelah ‘kematian’ dan ‘pajak’.

Musim ini pun nampaknya bukan sebuah pengecualian. Roma memang sedang dalam masa transisi, hengkangnya Walter Sabatini sebagai direktur olahraga dan sang allenatore Luciano Spalleti ke Inter tentunya meninggalkan lubang yang cukup besar, terlebih bagi Spalleti yang musim lalu berhasil membawa Roma memecahkan rekor poin tertinggi mereka di Serie A.

Meski pada akhirnya lubang tersebut telah ditambal Roma dengan merekrut sosok mantan direktur olahraga Sevilla Ramón Rodríguez Verdejo alias Monchi, dan juga menggaet mantan manajer Sassuolo, Eusebio Di Fransesco sebagai manajer. Namun banyak pihak yang percaya bahwa mereka masih membutuhkan masa adaptasi yang akan semakin berat tentunya apabila para punggawa Roma musim lalu memutuskan untuk hengkang.

DC2kYM8W0AE0kjy

Kiri ke Kanan: Eusebio Di Francesco, Monchi, James Pallota

Angin segar sempat berhembus pada pertengahan Juni lalu, saat direktur olahraga Roma yang baru, Monchi menyatakan bahwa ‘Roma bukan sebuah supermarket’ dan karenanya mempertahankan winning team menjadi penting untuk mencapa hasil yang lebih baik dari musim lalu.

Namun tak butuh waktu lama agar pernyataan tersebut berubah seperti layaknya janji politisi. Kurang lebih seminggu setelah ‘janji manis’ itu terucap, Mohamed Salah yang baru saja merasakan salah satu musim terbaiknya, dijual ke Liverpool dengan mahar €42 juta. Selang beberapa minggu, giliran Leandro Paredes yang dijemput Zenit dengan mahar €23 juta.

roma out

Para pemain yang telah meninggalkan Olimpico pada bursa transfer ini

Kedua nama tersebut belum termasuk Wojciech Szczęsny yang habis masa pinjamannya, Kostas Manolas yang transfernya ke Zenit mengalami kegagalan (kabarnya karena ia tidak mau dibayar dengan ruble), atau Mario Rui yang kabarnya semakin dekat dengan Napoli serta rumor yang beredar mengenai kemungkinan hengkangnya beberapa pemain lain seperti Radja Nainggolan atau Stephan El Shaarawy.

Dan yang paling hangat tentunya adalah Antonio Rüdiger yang menurut panutan dalam urusan transfer, Di Marzio telah mencapai kata sepakat dengan Chelsea. Yang makin membuat para suporter Roma naik pitam, kabar tersebut sekaligus membantah sekali lagi perkataan Monchi yang pernah menjamin bahwa ‘tidak ada kesempatan’ bagi Rüdiger untuk hengkang.

Pada awalnya, penjualan Salah dianggap wajar karena Roma diyakini membutuhkan uang untuk menutup rugi akibat gagal berlaga di Liga Champions agar memenuhi persyaratan Financial Fair Play (FFP). Namun, menjual pemain yang termasuk dalam winning team saat situasi keuangan sudah cukup stabil tentu menandakan bahwa Roma memang masih supermarket dan belum cukup pandai untuk belajar dari kesalahan di musim-musim sebelumnya.

Sungguh disayangkan, karena meski ditinggal beberapa punggawanya seperti Mralem Pjanic atau Lucas Digne, skuad Roma musim lalu adalah skuad terbaik mereka dalam beberapa musim terakhir.

Dan jika berkaca kepada Juventus, jelas bongkar-pasang skuad bukan lah cara yang tepat dalam merengkuh gelar. Sebaliknya, mempertahankan winning team dan memperkuatnya seperti yang dilakukan oleh Juventus akan membantu menanamkan mental juara, sesuatu yang belum ada dalam kamus Roma saat ini.

roma in.png

Pemain yang sudah didaratkan Roma sejauh ini

Harapan muncul saat Roma terlihat cukup aktif dalam pergerakan belanja pemain dalam bursa transfer kali ini. Sejauh ini, selain sudah mengamankan bek kanan berbakat asal Belanda, Rick Karsdrop dari Feyenoord, Roma juga berhasil mengamankan kapten timnas Mexico, Hector Moreno dari PSV, gelandang gaek Maxime Gonalons dari Lyon serta memulangkan Lorenzo Pellegrini dari Sassuolo.

DD7PxPIUwAIggSK

Lorenzo Pellegrini, dibawa pulang Roma dari Sassuolo

Selain nama-nama tersebut, Roma juga santer dikaitkan dengan beberapa pemain seperti Dominico Berardi dari Sassuolo atau pun Jean Seri dari Nice.

Meski begitu, perubahan komposisi pemain yang cukup signifikan, ditambah pergantian manajer tentunya membutuhkan masa adaptasi sebelum semuanya berjalan sesuai rencana dan bukannya tidak mungkin, nama-nama yang didatangkan Roma musim ini akan dijual dalam satu atau dua musim ke depan dan membuat Roma harus membongkar-pasang skuadnya kembali.

Dalam sebuah wawancara, presiden AS Roma, James Palotta mengaku heran dengan para fans yang cenderung pesimis dengan perubahan yang terjadi di Roma. Ia menambahkan bahwa ia dan jajarannya sedang bekerja keras dalam membangun Roma yang lebih kuat.

Namun di sisi lain, para pendukung Roma yang mulai lelah dengan narasi ‘next year will be our year’ di tiap awal musim termasuk saya pun tentunya juga heran karena Palotta seakan tidak pernah belajar dari musim-musim sebelumnya, meskipun dalam hati kecil kami selalu berharap betul bahwa apa yang dikatakan Palotta akan menjadi kenyataan. Roma akan menjadi lebih kuat dan akhirnya dapat meraih trofi setelah puasa gelar lebih dari satu dekade.

Dan tentu saya berharap bahwa Palotta, Monchi dan jajarannya selalu ingat bahwa Roma merupakan sebuah kesebelasan yang seharusnya mengejar trofi, bukan sebuah supermarket yang hanya mengejar laba semata seperti sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s