Beatles dan Kritik Terhadap Pajak Progresif Inggris

the-beatles-bw-portrait-1967-billboard-1548.jpg

“If you drive a car, I’ll tax the street

If you try to sit, I’ll tax your seat

If you get too cold I’ll tax the heat

If you take a walk, I’ll tax your feet”

Potongan bait tersebut merupakan potongan lirik lagu The Beatles ‘Taxman’ yang ditulis oleh George Harrison. ‘Taxman’ yang konon terinspirasi dari lagu pembuka serial TV Batman ini sendiri merupakan lagu pembuka dari album studio ketujuh The Beatles, yakni Revolver yang dirilis pada Agustus 1966 dan merupakan sindiran keras terhadap tarif pajak di Inggris yang tidak masuk akal.

2656792150_78ed8bd364_b

Sampul album Revolver.

Dalam sebuah wawancara yang dimuat dalam autobiografinya ‘I Me Mine’ Harrison mengatakan bahwa ‘Taxman’ ia tulis setelah menyadari bahwa walaupun dirinya dan Beatles mulai mendapatkan uang, namun sebagian besar dari uang tersebut ia bayarkan kepada ‘Taxman’. Pada masa tersebut, lanjutnya ia harus membayar 19 shillings dan enam pence dari setiap pound yang ia dapat.

Sebagai gambaran, terdapat 12 pence dari setiap shillings dan juga 20 shillings dari setiap pound dan dengan membayar pajak sebesar 19 shillings dan enam pence dari setiap pound yang didapat, maka Harrison dan personel Beatles lainnya hanya akan mendapat enam pence atau satu-per-empat-puluh dari setiap pound yang mereka dapat.

Lirik lagu tersebut juga menyebut dua nama Perdana Menteri Inggris yakni Harold Wilson dan Edward Heath yang juga merupakan pemimpin dari dua partai besar Inggris yakni Partai Buruh dan Partai Konservatif pada masa itu. Kedua nama tersebut dianggap bertanggungjawab dalam tarif pajak sinting tersebut.

Memang, dua tahun sebelum Revolver dirilis, tepatnya tahun 1964. Partai Buruh (Labour Party) yang kembali hangat diperbincangkan belakangan ini, berhasil memenangkan pemilu dengan persentase 44.1% suara sekaligus mengantarkan pemimpin mereka, Harold Wilson ke posisi Perdana Menteri Inggris menggantikan Edward Heath dari partai rival, Partai Konservatif. Wilson sendiri dalam perkembangannya menjabat sebagai Perdana Menteri selama dua periode yakni tahun 1964 hingga 1970 dan tahun 1974 hingga 1976.

Naiknya Wilson yang berasal dari Partai Buruh sebagai Perdana Menteri Inggris juga mengakibatkan sederetan perubahan termasuk dalam sektor pajak dengan menerapkan pajak progresif yang tentunya memihak kelas pekerja dan menengah yang menjadi basis pendukung Partai Buruh saat itu namun juga mencekik bagi warga negara Inggris yang kaya.

Pada masa itu, pemerintahan Wilson memperkenalkan pajak progresif ‘super’ dengan tingkat tertinggi yang mencapai angka 83%. Ini artinya bahwa orang-orang ‘super kaya’ di Inggris termasuk Paul McCartney, John Lennon, Richard Starkey dan George Harrison harus merelakan 83% hasil kerja kerasnya untuk disetor ke negara.

Angka tersebut belum termasuk pajak sebesar 15% yang diterapkan kepada penghasilan yang didapatkan melalui apa yang disebut sebagai ‘un-earned income’ yakni penghasilan yang didapatkan dari investasi. Pajak ‘un-earned income’ tersebut membuat total marginal tax rate yang diterapkan saat itu mencapai angka sebesar 98%. Menurut laporan pada tahun 1974, setidaknya terdapat 750.000 warga negara Inggris yang dikenakan pajak 98% ini.

b34

The Beatles dan Harold Wilson.

Pajak tinggi tersebut juga membuat banyak musisi berbakat Inggris lain emoh untuk berkarya di Inggris dan lebih memilih berkarya di negara lain dengan pajak yang lebih rendah.

Dalam sebuah wawancara yang dimuat Fortune Magazine pada tahun 2002, pentolan Rolling Stones, Mick Jagger mengatakan bahwa pada masa awal ia berkarir, ia seperti hampir tidak mendapatkan keuntungan apa-apa karena hampir seluruhnya tersedot pajak.

Dalam kesempatan lain ia mengaku bahwa setelah delapan tahun berkarya ia baru sadar bahwa ia tidak membayar pajak dan akhirnya memutuskan untuk pindah dari Inggris serta menjadi ‘eksil pajak’ atau ‘tax exile’ bahkan hingga sekarang.

Mick dan Rolling Stones sendiri pada akhirnya pindah ke Perancis di mana kemudian mereka mendapat lebih banyak penghasilan di sana.

Selain Mick dan Rolling Stones, menjadi ‘eksil pajak’ juga dilakukan musisi lain yang juga keberatan dengan tarif pajak di Inggis saat itu seperti Rod Stewart yang pindah ke Amerika Serikat, David Bowie yang pindah ke Swiss atau juga Richard Starkey alias Ringgo Starr yang pindah ke Monte Carlo, Monaco dan mengakui bahwa dirinya tidak membayar pajak sama sekali di sana.

Nicholas Shaxson dalam bukunya “Treasure Islands: Uncovering the Damage of Offshore Banking and Tax Havens”, menuliskan bahwa kini para musisi lebih senang ‘menyembunyikan’ penghasilan mereka pada perusahaan-perusahaan di negara-negara tax havens seperti Luksemburg, Panama atau Swiss.

Saat ini tarif pajak yang berlaku (terutama di Inggris) memang sudah menurun dan meskipun diamini oleh para musisi Britania dan orang-orang ‘super kaya’ kritik Beatles tentang pajak dalam lagu ‘Taxman’ tersebut juga mendapat banyak respon negatif, terutama dari simpatisan Partai Buruh pada masa itu.

Namun meskipun penuh pro dan kontra, melalui ‘Taxman’ Beatles menunjukkan bahwa mereka bukan hanya sekumpulan empat pemuda slengean yang hanya bisa bernyanyi lagu soal percintaan, tapi juga kritik sumbang terhadap pemerintah yang tentunya tetap dibalut dengan musik yang ciamik.

Dan melalui tulisan ini saya juga berharap bahwa akan lebih banyak lagi musisi Indonesia yang menyuarakan kritik mereka melalui media musik serta tidak hanya koar-koar melalui Twitter seperti yang dilakukan Ah….

Sudahlah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s